<$BlogRSDURL$>
Pecel Thoughts
Wednesday, January 11, 2006
 


time goes by, so slowly ( taken from song : hung-up - madonna )

relavitas waktu itu benar adanya. Einstein ternyata sadar duluan bahwa waktu itu bukan 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan 365 hari setahun.. Waktu itu relatif. Relatif berarti tidak ada yang pasti, tidak eksak. Bisa sehari sekejap atau sedetik setahun.
Kita akan butuh waktu yang lebih panjang jika terburu buru, dan ingin memotong waktu jika sedang bosan. Sepertinya Madonna sedang bosan ketika menyanyikan 'hung-up'.. time goes by, so slowly.. bosan dengan dansa trance dan goyang kepala yang membosankan, sampai perlu untuk menarikan lagi dansa 80-an.

aku juga bisa merasa kebanyakan waktu, atau merasa kenapa detik detik ini seperti tahunan.

Monday, June 21, 2004
 
lelah

rasanya lelah juga.. semua kok akhir2 ini memberikan aura yang negatif melulu ya?
gue kan udah janji sama diri gue sendiri, kalo gue akan sebisa mungkin membagi energi positip ke orang yg gue temuin.. karena buat gue, gak ada gunanya manusia diciptain kalo enggak ada fungsinya buat orang lain. cuman, setelah gue rasain gak banyak ( berarti sedikit ) orang yang punya 'cara pandang' begitu.. betapa sulitnya membagikan rasa positif itu ke orang lain di dunia yang cuma melihat problem, kesulitan, capek badan, lesu, lelah, gak semangat, minder, takut.. seperti berjuang sendirian.

even dr orang2 terdekatpun, kadang untuk mengharapkan senyum aja jadi sesuatu yang susah.. malah cuman rengut wajah, muka capek dan discouraging words yg timbul... sementara udah susah2 mendisiplinkan diri buat senyum, bekerja dengan baik, mencari duit, travel kilometers for something that i dont know the result yet.. all i wanna get is... S M I L E... or tepukan di pundak.. ucekan rambut di kepala.. segelas air putih..
( now i become grumbling ).. i know, we can expect people to do as we do.. but now i realize that im not that strong..

now, i feel tired.. i feel alone with my positive thinking.. im tired of my encouraging people from the phone, im tired of thinking how i can help others financial problem, im tired of having people to calm down and motivate them..

God, i'm tired.. please be my partner..

Friday, May 14, 2004
 
The currents that determine our dreams and shape our lives flow from the attitudes we nurture every day

ipl

Wednesday, May 12, 2004
 
Tuhan Kebaikan, Tuhan Kejahatan

Oleh: Ulil Abshar-Abdalla


Banyak yang beranggapan bahwa pemikiran-pemikiran saya sangat
"menuhankan" akal. Anggapan ini terutama disampaikan oleh teman-teman Islam
fundamentalis. Teman-teman ini berpendapat bahwa akal itu, kalau diikuti,
hanya akan menyeret manusia kepada kesesatan. Alasannya, akal itu lemah,
terbatas, dan karena itu butuh petunjuk. Petunjuk yang sudah pasti
benarnya hanya bisa datang dari Tuhan. Dengan kata lain, akal itu adalah
"duta besar" Iblis dalam kehidupan manusia. Iblis sesat karena
menggunakan akalnya, sehingga ketika diperintahkan sujud oleh Allah kepada Adam,
Iblis menolak: "Khalaqtani min narin, wa khalaqtahu min thin, Engkau
ciptakan aku dari api, sedangkan dia [Adam] dari lempung,” demikian kata
Qur'an.

Pertanyaan saya kemudian, apakah betul bahwa sumber kejahatan itu di
luar Tuhan? Apakah tidak mungkin kejahatan ada dalam Tuhan sendiri? Kalau
kejahatan secara mutlak di luar Tuhan, apakah dalam konsepsi monoteisme
hal itu tidak berujung kepada kemusyrikan, karena akibatnya adalah
adanya dua Tuhan: Tuhan Kebaikan (The Hero) dan Tuhan Kejahatan (The
Villain)? Apakah itu tidak menyekutukan Allah?

Ini masalah rumit yang sudah menjadi perdebatan klasik dari dulu.
Mungkin terlalu mewah memperdebatkan hal ini. Apalagi kita sedang bergairah
menghadapi pemilihan presiden untuk kali pertama. Tetapi, bagaimanapun
juga, perkenankan saya mengutarakan pikiran saya yang masih bersifat
sementara ini.

Bagi saya, sebagai penganut monoteisme, wawasan yang lebih masuk akal
tentang ketuhanan adalah wawasan yang justru memandang Tuhan itu sendiri
sebagai "Dzat" atau "Being" atau "Wujud" yang sedang berproses juga.
Bagi teman yang pernah membaca pikiran filosof proses, Alfred Whitehead,
konsepsi ketuhanan yang berwatak "prosesual" ini sudah pasti tidak aneh
dan mengagetkan. Kebaikan dan kejahatan bersumber dari Tuhan yang sama,
dan dalam diri Tuhan memang terdapat dua aspek yang paradoksal.
Paradoks ketuhanan itulah yang kemudian "memancar" (ini istilah khas dalam
filsafat: emanasi (al faidh) ke dalam kehidupan manusia. Jika manusia
diciptakan dalam citra Tuhan (Imago Dei dalam konsepsi Kristen; atau wa
nafakhtu min ruhi dalam konsepsi Islam), maka dengan sendirinya
paradoks-paradoks yang ada dalam Tuhan sendiri akan "mengalir" pula dalam watak
dan psike manusia itu sendiri.

Sebagaimana Tuhan dalam dirinya mengalami semacam "proses" yang
melibatkan pertarungan antara yang "Baik" dan yang "Buruk", sebagaimana Tuhan
dalam dirinya mengalami dialektika, maka demikian pula manusia. Inilah
konsepsi yang konsisten mengenai Tauhid, mengenai Tuhan yang satu:
Tuhan Kebaikan sekaligus Tuhan Kejahatan. Wallahu a’lam Bisshawab (Ulil
Abshar-Abdalla)

Monday, May 03, 2004
 
tentang jatuh cinta

Antara kehendak pribadi atau ada kekuatan lain, begitu buatku tentang awal dari sebuah jatuh cinta. Jatuh cinta itu seperti menang lotre, kemungkinannya keciil sekali tetapi selalu ada saat yang kita tidak mengharapkan justru malah dapat; sebaliknya pada saat kita mengharap sangat, malah tidak pernah dapat; pun untuk sebuah kemungkinan 1:2.
Kalau jatuh cinta adalah seperti itu, berarti aku lebih percaya bahwa itu akan datang pada saat yang tidak terharapkan sama sekali. Pada saat yang tiba tiba, pun pada tempat yang tidak terduga sama sekali. Entah karena satu pandangan, atau sebuah kata yang terucap, bagiku itu hanya sebuah ‘pemicu’ dan menjadi tidak penting, karena intinya saat itu adalah saat yang datang begitu saja. Secara kimiawi, kalau tidak salah ada penjelasannya, namun bagiku itu cuma pembenaran atas ketidaktahuan manusia akan kenapa seseorang bisa jatuh cinta. Kenapa aku harus jatuh cinta pada dia? Kenapa bukan yang lain ? Kalau cinta itu datang begitu tiba tiba, apakah ia bisa pergi tiba tiba? Berapa lama cinta itu diam tinggal ? Apa cinta itu bisa digandakan dan terbang hinggap pada pribadi lain?
Makin dipikir, seperti biasa makin tidak ada jawaban. Ini mungkin satu hal yang manusia masih tidak bisa berkuasa terhadapnya. Ketika cinta itu datang dan hinggap, mana ada kekuatan lain yang bisa menghalang. Lalu untuk apa ada jatuh cinta ? Apa cinta bisa hinggap pada tempat dan waktu yang salah ? Atau itu bukan cinta ? Lalu apa ?
Bagaimana bentuknya? Aku ingin membuka hati seseorang yang meng-klaim dirinya sedang jatuh cinta, melihat ke dalam dan mengambil cinta jika mungkin. Lalu menaruhnya di bawah mikroskop untuk melihat apa saja sebenarnya yang menjadi isi sebuah cinta. Mengapa ‘benda’ ini begitu mempengaruhi manusia. Merubah manusia untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Atau, justru cinta lah yang membuat manusia menemukan ke-manusia-an-nya. Membuat manusia sadar dan mengalami perubahan.
Buatku, jatuh cinta itu seperti dapat ‘jack-pot’.. Sekali dan tidak akan datang lagi, entah aku bisa memaksimalkan isi dari ‘jack-pot’ itu, atau justru karena kebodohanku , malah membuat kehidupan menjadi celaka.
Yang pasti jatuh-cinta bisa jadi bukan cinta.

Tuesday, April 20, 2004
 
tentang menjadi hidup saat ini;

akhir akhir ini lagi terpengaruh banget dengan kata kata "hiduplah saat ini".. pikir pikir bener juga, soalnya kebanyakan manusia yang aku liat tiap hari adalah manusia yang gak hidup saat ini. Kalo gak ‘hidup kemarin’ ya ‘hidup besok’. Akhirnya kalo sepanjang pengamatan sih, kok gak asik gitu lo. Kebanyakan mikir, gimana besok; atau mikirin kenapa kemarin aku gak begini atau begitu. Akhirnya jadi gak pernah hidup.
Emang bener sih, bahwa kehidupan itu lebih kepada ‘menikmati dengan jiwa’ bukan ‘raga’.. artinya hidup itu mau gimana terserah kita mengarahkan ‘si-jiwa’ untuk mengartikan hidup itu. Kalau ‘jiwa’ bilang hidup itu indah, mau gimana juga ya tetap indah. Cuma keadaan hidup yang katanya normal ini kan udah jadi ruwet karena pagar pagar yang di ciptain sama manusia sendiri entah dengan alasan budaya; kebiasaan; norma; agama; etika, dsb. Sialnya, ‘si-jiwa’ jadi gak pernah diajak untuk merasakan kehidupan lagi. Karena manusia udah gak sanggup lagi keluar dari pagar yang dibikin sendiri. Padahal kalo dipikir2 kehidupan yang ragawi ini kan pendek sekali, 60 tahun itu kan sebentar.. mangkanya kalau cuma berakhir dengan kerutinitas itu (baca; pagar2), kasihan banget.
Aku sih masih mencoba lompat pagar, bukan dalam arti menjadi tidak menyentuh hal2 yang rutin tadi, tapi lebih melihat kenikmatan ‘jiwa’ apa yang bisa aku dapet dari setiap hal yang aku lakukan tiap hari. Memang, kehidupan akan terlihat berjalan seperti biasanya; bangun-berak-mandi-minum kopi-baca Koran-manasin mobil-macet macet-masuk kantor-meeting2 gak penting-nyalain computer-minum kopi lagi-makan siang-sok kerja lagi-beresin meja- macet- buka baju-mandi-boker-makan- tidur… akan begitu untuk beberapa waktu mendatang; cuma aku mencoba ( dengan sangat) untuk mencari kenikmatan ‘jiwa’ itu, mungkin disebut ‘esensi’ dari setiap gerakan dan tindakan yang aku lakukan, untuk selalu baru nilainya tiap detik. Lalu aku bisa menyimpulkan bahwa aku cukup puas dengan kehidupan yang aku lakukan.

Begitulah, cuma lagi memikirkan lagi aja tentang hari hari yang tiap jam lewat begitu aja di depan mata, dan aku takut aku tidak menjadi ‘hidup’ dari kehidupan yang diberikan entah oleh siapa kepada aku.


tentang cinta ;

makin aku jatuh cinta, makin aku gak mengerti apa itu cinta. Jadi kalau cinta itu adalah kolam renang, ketika aku menceburkan diri aku ke dalam kolam; pemahaman aku tentang kolam renang itu langsung berbeda sekali dengan saat aku masih diluar kolam. Air yang jernih itu, di dalam kolam jadi gak sebening yang aku kira, aku jadi gak bisa nafas, lebih lagi kalau gak bisa berenang, jadi tenggelam.. karena cinta. Mudah emang mendefinisikan cinta kalau kita diluar cinta itu, serasa cinta itu bisa di definisikan dengan beberapa kalimat, atau sebuah puisi. Padahal mendefinisikan cinta dengan sebuah kalimat, malah merendahkan arti cinta yang sebenarnya. Cinta itu cukup untuk cinta – gitu katanya Gibran, segitu mentoknya si Gibran untuk mendefinisikan cinta itu apa, sampai akhirnya dia bilang, cinta ya cinta.. titik.
Aku belum selesai mendefinisikan cinta dengan pendapatku pribadi, hari ini belum.. mungkin nanti, tahun depan atau lima tahun lagi, atau entah sampai aku mati. Jadi titip buat siapa saja, taruhkan sebuah kalimat pada batu nisanku ; ‘tahukan anda apa itu cinta?’ lalu tuliskan pendapat anda pada sebuah kertas dan taruh di atas pusaraku.
Yang pasti sebuah kolam renang di buat bukan untuk mencuci baju, tapi untuk di buat berenang, agar kita sehat dan bertumbuh; walaupun ada resiko tenggelam juga. Begitu pula sebuah cinta, dibuat untuk di nikmati dan di selami. Tak akan pernah ada kehidupan yang sehat tanpa berani menyelam dalam cinta.


tentang perempuan;

….


Powered by Blogger