<$BlogRSDURL$>
Pecel Thoughts
Tuesday, April 20, 2004
 
tentang menjadi hidup saat ini;

akhir akhir ini lagi terpengaruh banget dengan kata kata "hiduplah saat ini".. pikir pikir bener juga, soalnya kebanyakan manusia yang aku liat tiap hari adalah manusia yang gak hidup saat ini. Kalo gak ‘hidup kemarin’ ya ‘hidup besok’. Akhirnya kalo sepanjang pengamatan sih, kok gak asik gitu lo. Kebanyakan mikir, gimana besok; atau mikirin kenapa kemarin aku gak begini atau begitu. Akhirnya jadi gak pernah hidup.
Emang bener sih, bahwa kehidupan itu lebih kepada ‘menikmati dengan jiwa’ bukan ‘raga’.. artinya hidup itu mau gimana terserah kita mengarahkan ‘si-jiwa’ untuk mengartikan hidup itu. Kalau ‘jiwa’ bilang hidup itu indah, mau gimana juga ya tetap indah. Cuma keadaan hidup yang katanya normal ini kan udah jadi ruwet karena pagar pagar yang di ciptain sama manusia sendiri entah dengan alasan budaya; kebiasaan; norma; agama; etika, dsb. Sialnya, ‘si-jiwa’ jadi gak pernah diajak untuk merasakan kehidupan lagi. Karena manusia udah gak sanggup lagi keluar dari pagar yang dibikin sendiri. Padahal kalo dipikir2 kehidupan yang ragawi ini kan pendek sekali, 60 tahun itu kan sebentar.. mangkanya kalau cuma berakhir dengan kerutinitas itu (baca; pagar2), kasihan banget.
Aku sih masih mencoba lompat pagar, bukan dalam arti menjadi tidak menyentuh hal2 yang rutin tadi, tapi lebih melihat kenikmatan ‘jiwa’ apa yang bisa aku dapet dari setiap hal yang aku lakukan tiap hari. Memang, kehidupan akan terlihat berjalan seperti biasanya; bangun-berak-mandi-minum kopi-baca Koran-manasin mobil-macet macet-masuk kantor-meeting2 gak penting-nyalain computer-minum kopi lagi-makan siang-sok kerja lagi-beresin meja- macet- buka baju-mandi-boker-makan- tidur… akan begitu untuk beberapa waktu mendatang; cuma aku mencoba ( dengan sangat) untuk mencari kenikmatan ‘jiwa’ itu, mungkin disebut ‘esensi’ dari setiap gerakan dan tindakan yang aku lakukan, untuk selalu baru nilainya tiap detik. Lalu aku bisa menyimpulkan bahwa aku cukup puas dengan kehidupan yang aku lakukan.

Begitulah, cuma lagi memikirkan lagi aja tentang hari hari yang tiap jam lewat begitu aja di depan mata, dan aku takut aku tidak menjadi ‘hidup’ dari kehidupan yang diberikan entah oleh siapa kepada aku.


tentang cinta ;

makin aku jatuh cinta, makin aku gak mengerti apa itu cinta. Jadi kalau cinta itu adalah kolam renang, ketika aku menceburkan diri aku ke dalam kolam; pemahaman aku tentang kolam renang itu langsung berbeda sekali dengan saat aku masih diluar kolam. Air yang jernih itu, di dalam kolam jadi gak sebening yang aku kira, aku jadi gak bisa nafas, lebih lagi kalau gak bisa berenang, jadi tenggelam.. karena cinta. Mudah emang mendefinisikan cinta kalau kita diluar cinta itu, serasa cinta itu bisa di definisikan dengan beberapa kalimat, atau sebuah puisi. Padahal mendefinisikan cinta dengan sebuah kalimat, malah merendahkan arti cinta yang sebenarnya. Cinta itu cukup untuk cinta – gitu katanya Gibran, segitu mentoknya si Gibran untuk mendefinisikan cinta itu apa, sampai akhirnya dia bilang, cinta ya cinta.. titik.
Aku belum selesai mendefinisikan cinta dengan pendapatku pribadi, hari ini belum.. mungkin nanti, tahun depan atau lima tahun lagi, atau entah sampai aku mati. Jadi titip buat siapa saja, taruhkan sebuah kalimat pada batu nisanku ; ‘tahukan anda apa itu cinta?’ lalu tuliskan pendapat anda pada sebuah kertas dan taruh di atas pusaraku.
Yang pasti sebuah kolam renang di buat bukan untuk mencuci baju, tapi untuk di buat berenang, agar kita sehat dan bertumbuh; walaupun ada resiko tenggelam juga. Begitu pula sebuah cinta, dibuat untuk di nikmati dan di selami. Tak akan pernah ada kehidupan yang sehat tanpa berani menyelam dalam cinta.


tentang perempuan;

….

Comments: Post a Comment

Powered by Blogger