Pecel Thoughts
Wednesday, May 12, 2004
Tuhan Kebaikan, Tuhan Kejahatan
Oleh: Ulil Abshar-Abdalla
Banyak yang beranggapan bahwa pemikiran-pemikiran saya sangat
"menuhankan" akal. Anggapan ini terutama disampaikan oleh teman-teman Islam
fundamentalis. Teman-teman ini berpendapat bahwa akal itu, kalau diikuti,
hanya akan menyeret manusia kepada kesesatan. Alasannya, akal itu lemah,
terbatas, dan karena itu butuh petunjuk. Petunjuk yang sudah pasti
benarnya hanya bisa datang dari Tuhan. Dengan kata lain, akal itu adalah
"duta besar" Iblis dalam kehidupan manusia. Iblis sesat karena
menggunakan akalnya, sehingga ketika diperintahkan sujud oleh Allah kepada Adam,
Iblis menolak: "Khalaqtani min narin, wa khalaqtahu min thin, Engkau
ciptakan aku dari api, sedangkan dia [Adam] dari lempung,” demikian kata
Qur'an.
Pertanyaan saya kemudian, apakah betul bahwa sumber kejahatan itu di
luar Tuhan? Apakah tidak mungkin kejahatan ada dalam Tuhan sendiri? Kalau
kejahatan secara mutlak di luar Tuhan, apakah dalam konsepsi monoteisme
hal itu tidak berujung kepada kemusyrikan, karena akibatnya adalah
adanya dua Tuhan: Tuhan Kebaikan (The Hero) dan Tuhan Kejahatan (The
Villain)? Apakah itu tidak menyekutukan Allah?
Ini masalah rumit yang sudah menjadi perdebatan klasik dari dulu.
Mungkin terlalu mewah memperdebatkan hal ini. Apalagi kita sedang bergairah
menghadapi pemilihan presiden untuk kali pertama. Tetapi, bagaimanapun
juga, perkenankan saya mengutarakan pikiran saya yang masih bersifat
sementara ini.
Bagi saya, sebagai penganut monoteisme, wawasan yang lebih masuk akal
tentang ketuhanan adalah wawasan yang justru memandang Tuhan itu sendiri
sebagai "Dzat" atau "Being" atau "Wujud" yang sedang berproses juga.
Bagi teman yang pernah membaca pikiran filosof proses, Alfred Whitehead,
konsepsi ketuhanan yang berwatak "prosesual" ini sudah pasti tidak aneh
dan mengagetkan. Kebaikan dan kejahatan bersumber dari Tuhan yang sama,
dan dalam diri Tuhan memang terdapat dua aspek yang paradoksal.
Paradoks ketuhanan itulah yang kemudian "memancar" (ini istilah khas dalam
filsafat: emanasi (al faidh) ke dalam kehidupan manusia. Jika manusia
diciptakan dalam citra Tuhan (Imago Dei dalam konsepsi Kristen; atau wa
nafakhtu min ruhi dalam konsepsi Islam), maka dengan sendirinya
paradoks-paradoks yang ada dalam Tuhan sendiri akan "mengalir" pula dalam watak
dan psike manusia itu sendiri.
Sebagaimana Tuhan dalam dirinya mengalami semacam "proses" yang
melibatkan pertarungan antara yang "Baik" dan yang "Buruk", sebagaimana Tuhan
dalam dirinya mengalami dialektika, maka demikian pula manusia. Inilah
konsepsi yang konsisten mengenai Tauhid, mengenai Tuhan yang satu:
Tuhan Kebaikan sekaligus Tuhan Kejahatan. Wallahu a’lam Bisshawab (Ulil
Abshar-Abdalla)
Comments:
Post a Comment
